Tokoh-tokoh Sosiologi

Alfred Vierkandt ( 1867-1953 )
Pada mulanya ia berpendapat bahwa kajian sosiologi adalah membahas tentang sejarah kebudayaan. Kemudia ia berpandangan lain bahwa kajian sosiologi adalah interaksi sosial dan hasil dari interaksi tersebut. Menurutnya masyarakat adalah himpunan-himpunan interaksi sosial, sehingga sosiologi bertugas untuk mengkontruksikan teori-teori tentang masyarakat dan kebudayaan.
Setiap masyarakat merupakan kebulatan di mana –mana masing-masing unsure saling mempengaruhi.Menurutnya dasar struktur sosial adalah ikatan emosional, tak ada konflik antara kesadaran individu dengan kelompoknya. Hubungan antar individu merupakan mata rantai, hubungan tersebut akan timbul dan akan hilang, akan tetapi strutur dan tujuan kelompok sosial akan tetap bertahan. Sosiologi juga mempelajari bentuk-bentuk struktur sosial tersebut.
Hasil karyanya, a.l;
Primitive and civilized people ( 1896 )
Inertia in culture change ( 1908 )
Theory of society; Main problem of philosophical sociologi ( 1922 )

Leopold von Wiese ( 1876-1949 )
Ia seorang sosiololog dari Jerman. Ia beranggapan bahwa sosilogi adalah ilmu pengetahuan empiris yang berdiri sendiri..
Menurutnya obyek sosiologi adalah penelitian terhadap hubungan antar manusia yang merupakan kenyataan sosial. Obyek sosiologi adalah interaksi sosial atau proses sosial.Ia meneliti tentang klasifikasi proses-proses sosial, yang menekankan pada proses sosial asosiatif dan disosiatif. Setiap katgori proses-proses sosial dibagi-bagi lagi menjadi proses yang lebih kecil.
Ia juga meneniliti tentang struktur sosial. Menurutnya struktur sosial merupakan saluran dalam hubungan antar manusia.Hasil karyanya antara laihn:
The basic of sociology: a critical examination of Herbert spencer’s synthetic philosophy ( 1906 )
General sociologi, jilid.I Social relations ( 1924 ) dan jilid II tahun 1929

Georg Simmel ( 1858-1918 )
Lahir di Berlin 1858.Ia menylesaikan studinya dibidang filsafat.
Ia memberikan kontribusi yang cukup besar pada konsep tindakan timbale balik dan ikatan sosial.Naskahnya th 1909 yang berjudul Brucke und tur ( jembatan dan pintu ), baginya kehidupan sosial merupakan gerakan yang tidak henti-hentinya membangun kembali model hubungan antar individu.Tindakan yang dilakukan oleh seseorang akan memberikan pengaruh pada sesamanya.Tindakan ini dituntun oleh keseluruhan motivasi yang beragam dan tanpa pernah berhenti bergerak itulah totalitas seluruh tindakannya yang member kontribusi untuk mempersatukan totalitas individu menjadi masyarakat global.
Menurutnya produk dari tindakan timbal balik itu sebagai”bentuk sosial” ( forms sociale ) yang terdiri dari :
1. Bentuk yang bersifat permanen ( keluarga, Negara, gereja, perusahaan, partai politik dsb ) ini yang disebebut lembaga atau institusi.
2. Bentuk-bentuk yang merupakan skema prabangun dan dengan skema inilah berbagai organisasi dibentuk ( hirarkhi, persaingan, konflik, pengalaman, pembagian kerja dll ) ini merupakan bentuk-bentuk yang tengah terbentuk.
3. Bentuk-bentuk yang membentuk batas umum terjadinya sosialisasi ( politik, ekonomi, hokum, pendidikan dll ) ini disebut konformasi.
4. Bentuk-bentuk yang berlansung singkat berupa ritus-ritus harian ( kebiasaan , makan, berjalan bersama, sentuhan , sopan santun dll )
( Anthony Gidden, 2008 )

Erving Goffman ( 1922-1982 )
Lahir di Kanada, keturunan Yahudi orang tuanya berasal dari Rusia.Ia belajar tentang sosiologi di Chicago.
Pada tahun 1953 ia mempertahankan tesisnya yang berjudul “ cara berkomunikasi di tengah-tengah komunitas penghuni pulau”, merupakan penelitian partisipan di kepulauan Shetland.
Komunikasi menjadi tema dirinya dalam kajian sosiologi.Ia menganalisis interaksi sosial, ritus, kesopanan, pembicaraan dan semua hal yang menjalin hubungan sehari-hari. Interaksi dianggap menjadi dasar kebudayaan. Sistem ini memiliki norma, mekanisme dan regulasi.
Ritual-ritual interaksi dianggap sebagai ajang untuk mengaskan adanya tatanan moral dan sosial.Dalam sebuah pertemuan seorang actor berusaha member citra yang ditentukan oleh dirinya sendiri berupa wajah atau nilai sosial positif yang dituntut seseorang melalui jalur tindakan dan dianggap orang lain memang dijalankan demikian selama terjadinya kontak khusus.
Pada tahun 1965 ia mengarang buku berjudul “La presentation de soi” ( Presentasi Diri ).Pada buku tersebut E Goffman menganalogikan dunia dengan panggung sandiwara dimana individu-individu menjadi actor yang memegang peran dalam hubungan sosial sebagai representasi yang tunduk pada aturan yang baku.Dalam panggung sandiwara itu seseorang harus mampu menampilkan “ kesan realitas “ kepada sesamanya agar bisa meyakinkan gambaran ( citra ) yang hendak diberikan kepada orang lain.Untuk itu ia harus mengadapstasi “permukaan pribadinya lewat peran dan mendramatisasinya, yaitu dengan memasukkan tanda-tanda yang akan memberikan kilau dan relief perilakunya melalui aktivitas yang dilakukannya ( agar perilakuknya tampak tidak keliru ).
Dalam kegiatan penelitiannya E Goffman menekankan pada ‘Pengamatan terlibat”.E Goffman selama kurang lebih satu tahun berada di sebuah rumah sakit St Elizabet , ia berbaur dengan kehidupan dirumah sakit tersebut.Ia mengamati setiap perilaku yang muncul terhadap para pasien.Ia juga menjalani kehidupan seperti sebagai “ orang-orang terasing “.Ia memperlakukan rumah sakit seperti bangunan sosial yang khusus berfungsi sebagai “ penjaga” manusia tanpa menyinggung spesifikasi penyakit yang diderita oleh pasien.Karya terbesar E Goffman adalah Asiles, etudes sur la condition sociale des melades mentaux ( asylum, studi tentang kondisi sosial penderita penyakit mental ).Karya ini baru diterjemahkan dalam bahasa perancis tahun 1968.( Anthony Giddens,2008 )

Biography of Max Weber ( 1864-1920 )
Lahir di Erfrurt 1864.
Ia menyelesaikan pendidikannya dibidang hokum, ekonomi, sejarah , filsafat dan teologi.Ia termasuk yang ikut menyebarkan ilmu sosiologi yang dianggap masih muda di waktu itu. Max Weber, walaupun menguasai bidang politik namun ia tidak terlibat dalam aksi politik. Ia mengarang buku Le Savant et le politique ( ilmuan dan politik ).
Weber menyatakan bahwa rasionalisasi kehidupan sosial menjadi cirri yang paling signifikan pada masyarakat modern.Menurutnya rasionalisasi menyangkut tiga tipe besar aktifitas manusia yaitu :
1. Tindakan tradisional yang berkaitan dengan adat-iastiadat.Aktivitas sehari-hari seperti makan menggunakan garpu atau cara member salam kepada teman termasuk pada tindakan tradisional.
2. Tindakan afektif yang digerakkan oleh nafsu.
3. Tindakan rasional yang merupakan alat ( instrument), ditujukan kearah nilai yang bermanfaat dan berimplikasi pada kesesuaian antara tujuan dengan cara.

Menurutnya tindakan rasional menjadi ciri masyarakat modern yaitu dirinya sebagai pengusaha kapitalis , ilmuan, konsumen atau pegawai yang bertindak sesuai dengan logika tersebut.Aktivititas manusia merupakan kombinasi dari berbagai tindakan. Jarang sekali aktivitas sosial yang berorientasi pada salah satu jenis tindakan saja. Jenis-jenis aktivitas itu hanya berupa tipe-tipe murni yang dibangun untuk tujuan risert sosiologi.Aktivitas riil itu kurang lebih sebanding dan lebih sering berkombinasi.

Dalam econimie et societe, ia membedakan tiga tipe dominasi :
1. Dominasi tradisional yang didasarkan pada legitimasi karena cirri sakralitas yang melekat kepadanya.contohnya kekuasaan para tuan tanah.
2. Dominasi kharismatik adalah dominasi suatu perorangan/personalitas tertentu dan dikaruniai aura khusus.Pemimpin kharismatik membesarkan kekuatan untuk menyakinkan dan kapasitasnya untuk mengumpulkan dan memobilisasi banyak orang. Ketaatan pada pemimpin semacam ini terkait dengan factor-faktor emosional yang berhasil dibangkitkan, dipertahankan dan dikuasainya.
3. Dominasi “legal-rasional “ yang bertumpu pada hokum formal dan impersonal. Dominasi ini terkait dengan fungsi, dan bukan pada person. Kekuasaan dalam organisasi modern dijustifikasi lewat kompetensi, rasionalitas dan bukan pada kekuatan sihir. Kepatuhan pada tipe ini didasarkan pada sebuah kitab hokum. ( Philippe Cabin, 2008 )

Biography of Alexis de Tocqueville
Lahir di Perancis 29 Juli 1805, meninggal 1859 di Cannes.
Pada usia 20 tahun ia mengembara ke Amerika Serikat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang menyelimutinya, yaitu apakah kesetaraan dalam berbagai kondisi ( system pemerintahan ) sudah sesuai dengan praktik kebebasan ? dan dengan memberikan hak pemungutan suara kepada seluruh warga tanpa kecuali itu tidaklah menyebabkan demokrasi menjadi anarkhi ? Kemudian ia mengarang sebuah buku de la demokratie en Amerique.
Dalam karyanya itu ia mengatakan bahwa kesetaraan harus dibatasi pada praktek kewarganegaraan karena tanpa itu kesetaraan akan merusak kebebasan. Deokrasi dijalankan dari dalam melalui evolusi-evolusi yang bisa berganti-ganti, kadang tidak condong ke anarkhi dan kadang tidak condong ke despositasme.Karena adanya persaingan , maka individu tidak pernah memulai berkompetisi dengan peluang yang sebanding.Dengan demikian individu-individu tersebut lebih memilih kesetaraan daripada kebebasan, mereka merasa cukup dengan kekuasaan yang kuat, kecuali kekuasaan itu melarang salah satu atau beberapa diantara mereka untuk berkembang melebihi yang lain.

Ia mengangap bahwa revolusi perancis merupakan titik akhir dari sejumlah evolusi yang muncul selama berabad-abad tegaknya monarkhi absolute, terutama dalam masalah sentralisasi kekuasaan.Oleh Raymond Aron menganuearahi Tocqueville sebagai pendiri sosiologi sejajar dengan Auguste acomte. ( Philippe cabin,2008)

biograraphy of Socrates
Socrates lahir di Athena tahun 470 SM, meninggal tahun 399 SM. Bapaknya seorang pembuat patung dan ibunya seorang bidan.Pada awalnya ia mengikuti jejak bapaknya yaitu membuat patung.
Socrates bergaul dengan semua orang, semua lapisan, tua muda, miskin kaya dsb.Ia adalah seorang yang pandai mengendalikan hawa nafsunya, ia pandai menguasai dirinya. Filsafat yang ia miliki diaktualisasikan dalam perbuatan.
Socrates mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai obyek pemikiran filsafatnya.Dalam mengajarkan ilmunya ia tidak pernah meminta bayaran dari orang yang telah diajarnya.Sehingga ia banyak ditentang oleh tokoh-tokoh sezamannya.Socrates juga dituduh telah mengajarkan faham baru yang merusak generasi muda.
Socrates dengan pemikiran filsafatnya selalu berusaha untuk menyelidiki masnusia secara keseluruhan. Yakni dengan cara menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.Socrates menggunakan metode dialektis-kritis ( dialektika )yaitu mengandung arti “ dialong antar dua pendirian yang bertentangan atau perkembangan pemikiran dengan pertemuan anta ride.Sehingga Socrates tidak mau begitu saja menerima pendirian dari orang lain sebelum ia analisa.Socrates berpandangan bahwa seorang ahli harus dapat memberikan argumentasi yang benar maka pengetahuan tersebut baru dapat diterima.
Dalam memberikan pelajaran kepada murid-muridnya, ia tidak dengan cara menjelaskan namun dengan mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban dan menanyakan lebih jauh lagi tentang suatu hal. Sehingga para siswanya dilatih untuk mampu memperjelas ide-iden mereka sendiri dan dapat mendefenisikan konsep yang mereka maksud dengan lebih detail.
Socrates percaya bahwa manusia ada untuk suatu tujuan dan bahwa salah dan benar memainkan peranan yang sangat penting dalam mendefinikan hubungan antara seseorang dengan lingkungan dan sesamanya.Pepatah dari Socrates yang terkenal adalah “Kenalilah Dirimu “.Socrates berpendapat bahwa kebaikan beasal dari pengetahuan diri, dan manusia pada dasarnya jujur, dan kejahatan merupakan suatu upaya akibat salah pengarahan yang membebani kondisi seseorang.
Dengan membaca filsafat hidup dari Socrates maka kita dapat mengambil hikmah dalam kehidupan ini sehingga kita dapat menciptakan masyarakat yang damai, sejahtera dan seimbang. ( Choirul Makhfud, 2009 , p. 6)

Biography of Talcott Parsons
(1902-1979) Talcott Parsons was one of America’s most distinguished and influential sociologists, and the author of the classic studies The Structure of Social Action and The Social System. He received his A.B. from Amherst College, studied at the London School of Economics, and earned his Dr. Phil. at the University of Heidelberg. He retired in 1977 as Professor of Sociology at Harvard University, where he had served for a time as Chairman of the Department of Social Relations, and died shortly therafter
Professor Parsons was a member and former President of the American Academy of Arts and Sciences. Among his numerous books are Essays in Sociological Theory, Social Structure and Personality, Politics and Social Structure, Economy and Society, with Neil J. Smelser, and The American University , with Gerald M. Platt.

Biography Park, Robert E
Park, Robert E(zra)
(born Feb. 14, 1864, Harveyville, Pa., U.S.—died Feb. 7, 1944, Nashville, Tenn.) U.S. sociologist. After 11 years as a newspaper reporter, Park attended various universities and studied with scholars such as John Dewey, William James, Josiah Royce, and Georg Simmel. He then worked for Booker T. Washington and later taught at the University of Chicago—where he was a leading figure in the “Chicago school” of sociology, characterized by empirical research and the use of human ecology models—and at Fisk University. He is noted for his work on ethnic groups, particularly African Americans, and on human ecology, a term he has been credited with coining. Park wrote Introduction to the Science of Sociology (1921) and The City (1925) with Ernest W. Burgess; Race and Culture (1950) and Human Communities (1952) were published posthumously.

Ferdinand Tönnies
The German sociologist Ferdinand Tönnies (1855-1936) pioneered sociology as an academic discipline of rigorously scientific character on a broad base of original studies in the history of ideas, epistemology, political science, economics, and social anthropology.
Ferdinand Tönnies was born on July 26, 1855, on a farm homestead in the North Frisian peninsula of Eiderstedt, then still under Danish sovereignty. One of seven children, he received his high school education in Husum, where he became deeply attached to the novelist and poet Theodor Storm. After studying classics at different German universities and taking his doctoral degree in 1877, Tönnies turned to philosophy, history, biology, psychology, economics, and ethnology as his ideas on scientific sociology began to take shape.
In Berlin in 1876 Tönnies began at the suggestion of his lifelong friend Friedrich Paulsen a study of the much-neglected philosophy of Thomas Hobbes. On his first of many journeys to England and also to France, Tönnies discovered in 1878 several original manuscripts by Hobbes, essential to better appreciation of his system of ideas and natural-law theory. In his first account (1879-1881) Tönnies argued the significance of Hobbes in the scientific revolution of the 17th century. Continuing his documentation, he published the standard monograph on Hobbes’s life and works in 1896 (3d ed. repr. 1971).
Beginning to lecture at the University of Kiel in 1882, at first on philosophy and government but soon extending his academic work to empirical social research and statistical methods, Tönnies devoted the next 6 years to working out his own social theory. His world-famous treatise Community and Society (1887) found little response in the intellectual climate of the Germany of Kaiser William II. The various schools of historicism disfavored the development of rigorously scientific social theory, and political practice in the Bismarck era refused to solve the pressing social problems of a rapidly growing industrial economy but fought the labor movement by legislation and police action even after 1890.
A clash with the Prussian university administration over Tönnies’s connection with the German branch of the Ethical Culture movement and his outspoken reports on the Hamburg longshoremen’s strike (1896-1897) made him suspect of radicalism if not socialist leanings; what promised to be the brilliant career of a gifted scholar was nipped in the bud. Yet, unremitting work on theoretical problems between 1894 and 1913, informed reviews of the growing world literature in the field, and prominent participation in the Verein für Sozialpolitik (Association for Social Politics) and the Gesellschaft für Soziale Reform (Society for Social Reform) increased Tönnies’s reputation inside and outside Germany, creating an unusually wide disparity between scholarly stature and status in academic life. The external conflict was resolved in 1909 by his appointment to a full professorship in political economy at Kiel, which for the father of five young children also meant relief from financial stress.
The early masterpiece had clearly been a first decisive step toward the systematic development of the new social science. As Tönnies’s plans for this elaboration were frustrated at the most productive time of life, only a few papers of theoretical importance stem from the period before World War I. At the same time, he became involved in a fierce battle against social Darwinism, adopted in imperial Germany as apologetics for a conservative outlook.
Of two new projects formed in 1907, a critique of public opinion and a study in social history, one was completed only in 1922, the other introduced by the volume The Spirit of the Modern Age in 1935. With Max Weber and others Tönnies had founded the German Sociological Association in 1909 and, as its subdivision, the Statistical Association (1911). He had failed, however, to complete his systematic sociology.
After World War I, with prospects more favorable to social science and its academic recognition in the Weimar Republic, Community and Society went through several new editions. Now in his 60s, Tönnies carried out his design of a systematic sociology. The theoretical parts on social units, values, norms, and action patterns in the Introduction to Sociology (1931) were supplemented by three volumes of collected studies and critiques and by a series of papers on his empirical research. He reestablished the Sociological Association, remaining its president until 1933.
The bulk of his published work bears out a distinction Tönnies had proposed in 1908 between pure, applied, and empirical sociology. In line with the scientific principles of both Galileo and Hobbes, pure sociology, including the fundamental concepts of community and society, relates to abstract constructions appertaining to human relationships; from these, more specific theories are deducible in applied sociology, with emphasis on interaction of economic, political, and cultural conditions in the modern age; they, in turn, serve as guidelines in inductive empirical research. Tönnies kept strictly separate from this threefold scientific endeavor what he called practical sociology; this, comprising social policies and social work, presents, in a complete system, technologies based on the scientific insights of the three sections of the system.
Tönnies acted on this solution also of the value problem. He relentlessly exposed the neoromanticism of the 1920s, just as his earlier critique of romanticism had been the cornerstone of the theory of Community and Society. But in 1933 he was deprived as “politically unreliable” of his status as professor emeritus. His death on April 9, 1936, spared him from being witness to the worst excesses of the Nazi dictatorship and from further indignities.

Biography Sigmund Freud
Sigmund Freud (IPA: [ˈziːkmʊnt ˈfʁɔʏt]), born Sigismund Schlomo Freud (6 May 1856 – 23 September 1939), was an Austrian psychiatrist who founded the psychoanalytic school of psychology.[1] Freud is best known for his theories of the unconscious mind and the defense mechanism of repression and for creating the clinical practice of psychoanalysis for curing psychopathology through dialogue between a patient and a psychoanalyst. Freud is also renowned for his redefinition of sexual desire as the primary motivational energy of human life, as well as his therapeutic techniques, including the use of free association, his theory of transference in the therapeutic relationship, and the interpretation of dreams as sources of insight into unconscious desires. He was also an early neurological researcher into cerebral palsy. While of significant historical interest, many of Freud’s ideas have fallen out of favor or have been modified by Neo-Freudians, although in the past ten years, advances in the field of neurology have shown evidence for many of his theories. Freud’s methods and ideas remain important in clinical psychodynamic approaches. In academia his ideas continue to influence the humanities and some social sciences.

Sumber artikel :http://en.wikipedia.org/wiki/Sigmund_Freud

BIOGRAFI SELO SUMARJAN

Prof Dr KPH Selo Soemardjan
Bapak Sosiologi Indonesia

Seorang lagi putera bangsa terbaik telah tiada. Ia �Bapak Sosiologi Indonesia� Prof Dr Kanjeng Pangeran Haryo Selo Soemardjan (88), meninggal dunia Rabu 11/6/03 pukul 12.55 di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, karena komplikasi jantung dan stroke. Sosiolog yang mantan camat kelahiran Yogyakarta, 23 Mei 1915 ini dikebumikan di Pemakaman Kuncen, Yogyakarta, hari Kamis 12/6/03 pukul 12.00 WIB. Penerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah ini adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (kini FISIP-UI) dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi dosen sosiologi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).

Ia meninggalkan lima anak, 15 cucu dan dua cicit. Istrinya, RR Suleki Brotoatmodjo, dan putra keduanya, Budihardjo, sudah lebih dulu berpulang. Jenazah disemayamkan di rumah kediaman Jl Kebumen 5, Menteng, Jakarta Pusat. Sangat banyak kerabat yang melayat, sehingga jalan sekitar sempat macet karena banyaknya kendaraan yang diparkir.

Kemudian Kamis (12/6) pukul 06.00, jenazah diterbangkan ke Yogyakarta, kota kelahirannya (Jl Kemetiran Kidul II/745, Kuncen) dengan pesawat Garuda GA 200. Jenazah akan disemayamkan di Masjid Kuncen sebelum dimakamkan di Pemakaman Kuncen, Yogyakarta, hari ini pukul 12.00 WIB.

Salah seorang anaknya mengatakan hari Senin pukul 05.00, beliau mulai dirawat di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita karena gangguan jantung. Rabu pukul 10.30 kena stroke. Dokter berusaha keras memberi bantuan pernapasan lewat alat-alat pernapasan, tetapi karena jantungnya terus melemah, usaha tersebut gagal. Sosiolog ini meninggal di tengah keluarga dan kerabat. Sekitar pukul 09.00 almarhum masih sempat tertawa-tawa menonton acara televisi yang memutar film Benyamin Samson Betawi. Tetapi, sekitar pukul 11.00 ia terlihat sesak napas.

Almarhum meninggalkan contoh yang baik, teladan, bukan hanya bgi keluarga tetapi bagi kerabat dan masyarakat umum. Ia dikenal sangat disiplin dan selalu memberi teladan konkret. Ia ilmuwan yang meninggalkan banyak bekal ilmu pengetahuan. Sebetulnya ia sudah purnatugas di Universitas Indonesia (UI). Tapi, karena masih dibutuhkan, ia tetap mengajar dengan semangat tinggi. Ia memang seorang sosok berintegritas, punya komitmen sosial yang tinggi dan sulit untuk diam.

Ia orang yang tidak suka memerintah, tetapi memberi teladan. Hidupnya lurus, bersih, dan sederhana. Ia tokoh yang memerintah dengan teladan, sebagaimana diungkapkan pengusaha sukses Soedarpo Sastrosatomo. Menurut Soedarpo, integritas itu pula yang membuat mendiang Sultan Hamengku Buwono IX berpesan kepada putranya, Sultan Hamengku Buwono X agar selalu mendengarkan dan meminta nasihat kepada Selo kalau menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan. Ia orang yang tidak pernah berhenti berpikir dan bertindak.

Ia seorang dari sedikit orang yang sangat pantas menyerukan hentikan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pantas karena ia bukan tipe maling teriak maling. Ia orang orang bersih yang dengan perangkat ilmu dan keteladanannya bisa menunjukkan bahwa praktik KKN itu merusak tatanan sosial. Ia pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya yang tinggi dalam mengabdi kepada masyarakat.

Tidak heran jika banyak kalangan yang melayat ke rumah duka menyampaikan belasungkawa. Di antaranya Dekan FISIP UI Gumilar Rusliwa Sumantri dan Rektor UI Usman Chatib Warsa, Wakil Rektor Arie S Soesilo, mantan Mendikbud Fuad Hassan, Guru Besar Ilmu Politik FISIP UI Miriam Budiardjo, mantan Ketua LIPI Taufik Abdullah, Ketua LIPI Anggara Jeni, Ketua LKBN Antara Muhammad Sobary, tokoh pers Jacob Oetama, pengusaha sukses Soedarpo Sastrosatomo, Sosiolog Paulus Wirutomo, rohaniwan dan budayawan Mudji Sutrisno SJ, Melly G Tan, sejarawan Taufik Abdullah, politisi dan musisi Eros Djarot serta antropolog Prof Dr Ichromi.

Selama hidupnya, Selo pernah berkarier sebagai pegawai Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Staf Sipil Gubernur Militer Jakarta Raya, dan Kepala Sekretariat Staf Keamanan Kabinet Perdana Menteri, Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan, Sekretaris Wakil Presiden RI Sultan Hamengku Buwono IX (1973-1978), Asisten Wakil Presiden Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983) dan staf ahli Presiden HM Soeharto.

Ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia setelah tahun 1959 — seusai meraih gelar doktornya di Cornell University, AS — mengajar sosiologi di Universitas Indonesia (UI). Dialah pendiri sekaligus dekan pertama (10 tahun) Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang FISIP) UI. Kemudian tanggal 17 Agustus 1994, ia menerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah dan pada tanggal 30 Agustus menerima gelar ilmuwan utama sosiologi.

Pendiri FISIP UI ini, memperoleh gelar profesor dari Fakultas Ekonomi UI dan sampai akhir hayatnya justeru mengajar di Fakultas Hukum UI.

Ia dibesarkan di lingkungan abdi dalem Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan Yogyakarta. Berkat jasa sang kakek, Soemardjan- begitu nama aslinya-mendapat pendidikan Belanda.

Nama Selo dia peroleh setelah menjadi camat di Kabupaten Kulonprogo. Ini memang cara khusus Sultan Yogyakarta membedakan nama pejabat sesuai daerahnya masing-masing. Saat menjabat camat inilah ia merasa mengawali kariernya sebagai sosiolog. “Saya adalah camat yang mengalami penjajahan Belanda, masuknya Jepang, dilanjutkan dengan zaman revolusi. Masalahnya banyak sekali,” tuturnya suatu ketika sebagaimana ditulis Kompas.

Pengalamannya sebagai camat membuat Selo menjadi peneliti yang mampu menyodorkan alternatif pemecahan berbagai persoalan sosial secara jitu. Ini pula yang membedakan Selo dengan peneliti lain.

Mendiang Baharuddin Lopa dalam salah satu tulisannya di Kompas (1993) menulis, “Pak Selo menggali ilmu langsung dari kehidupan nyata. Setelah diolah, dia menyampaikan kembali kepada masyarakat untuk dimanfaatkan guna kesejahteraan bersama.” Lopa menilai Selo sebagai dosen yang mampu mendorong mahasiswanya berpikir realistis dan mengerti serta menghayati apa yang diajarkannya. “Pendekatan realistis dan turun ke bawah untuk mengetahui keadaan sosial yang sesungguhnya inilah yang dicontohkan juga oleh para nabi dan kalifah,” tulis Lopa.

Meski lebih dikenal sebagai guru besar, Selo jauh dari kesan orang yang suka “mengerutkan kening”. Di lingkungan keluarga dan kampus, dia justru dikenal sebagai orang yang suka melucu dan kaya imajinasi, terutama untuk mengantar mahasiswanya pada istilah-istilah ilmu yang diajarkannya. “Kalau menjelaskan ilmu ekonomi mudah dimengerti karena selalu disertai contoh-contoh yang diambil dari kehidupan nyata masyarakat,” kenang Baharuddin Lopa.

Dalam tulisan Lopa, Selo juga digambarkan sebagai orang yang bicaranya kocak, tetapi mudah dimengerti karena memakai bahasa rakyat. Meski kata-katanya mengandung kritikan, karena disertai humor, orang menjadi tidak tegang mendengarnya.

Menurut putra sulungnya, Hastjarjo, Selo suka main. “Setiap hari selalu memainkan tubuhnya berolahraga senam. Karena terkesan lucu, cucu-cucu menganggap bapak sedang bermain-main dengan tubuhnya,” tambahnya.

Sebagai ilmuwan, karya Selo yang sudah dipublikasikan adalah Social Changes in Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi (1963). Penelitian terakhir Selo berjudul Desentralisasi Pemerintahan. Terakhir ia menerima Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-52 UGM tanggal 19 Januari 2002 diwujudkan dalam bentuk piagam, lencana, dan sejumlah uang.

SUMBER ARTIKEL : TokohIndonesia DotCom

Biografi Kingsley Davis
Davis coined the terms, zero population growth and population explosion. The lifelong interest of sociologist Kingsley Davis was the comparative study of population structure and change. Davis was born in Tuxedo, Texas, August 20, 1908, and educated at the University of Texas (A.B. 1930, M.A. 1932) and Harvard University (Ph.D. 1936). He taught at Smith College, Northampton, Massachusetts (1934-1936), Clark University, Worcester (1936-1937), Penn State University, University Park (1937-1942), and Princeton University (1942-1949).

In 1945, he edited World Population in Transition, an important analytical tool, and in 1948, he published his first major work Human Society, a classic textbook that detailed his interest in the family structure. From this came an offer to teach in the Bureau of Applied Social Research, Columbia University, New York City (1949-1955). In 1955, Davis went to the University of California, Berkeley, and in 1977, he was named Distinguished Professor of Sociology, University of Southern California, Los Angeles. He died in Stanford, California, February 27, 1997.

Davis took the temperature of the American family for half a century. Overall, he held a generally gloomy view, feeling that marriage was weakened by the ease of contraception, divorce, and gender equality. “Interchangeable” marriage partners and voluntary marriage bonds caused a profound, permanent change in the marriage institution, Davis said, a change he felt was for the worse. He also saw the demise of industrial societies, which do not replace themselves in number or quality, whereas nonindustrial societies produce some 92 percent of the world’s population.

Kingsley Davis gained prominence for his theories of demographic transition and zero population growth. In 1957, he predicted that the world population figure would climb to six billion by the year 2000. He was remarkably close; the target was reached in October 1999.

Sumber artikel :http://www.bookrags.com/biography/kingsley-davis-soc/

Biografi Joseph Slabey Roucek
Roucek adalah salah satu tokoh sosiologi dari Amerika Serikat yang bernama asli Joseph Slabey Roucek. Roucek lahir di Prague, Cekoslovakia pada tahun 1902 dan kemudian pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1921 pada saat Perang Dunia I. Beliau pernah mengeyam pendidikan di Occidental, sebuah universitas di Californa dan di Historycal Society of Pennsylvania. Roucek menerima gelar sarjananya dari Universitas New York dan mengajar sosiologi di berbagai universitas Amerika, Kanada, Eropa, dan universitas lainnya

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Occidental College, kemudian Roucek mulai menjadi seorang sosiolog yang terkenal yang juga dibantu oleh Roland L. Warren, seorang pengarang dan penulis artikel yang banyak hasil karyanya, dan beliau juga pernah menjadi dosen di Universitas New York. Roucek juga seorang pendiri Delta Tau Kappa. Delta Tau Kappa adalah suatu ilmu sosial internasional masyarakat kehormatan. Beliau wafat pada tahun 1984.
Sumber artikel :http://anita09091968.wordpress.com

Roucek pernah mengungkapkan konsep pengendalian sosial yang pernah digunakan dalam sosiologi pada tahun 1894 oleh Small dan Vincent, yaitu bahwa pengendalian sosial adalah sebuah istilah berusaha untuk suatu proses baik yang terencana maupun tidak terencana, oleh individual yang diajar, dibujuk atau dipaksa untuk menyesuaikan diri terhadap pemakaian dan nilai hidup suatu kelompok yang dapat kita klasifikasikan sebagai proses sosialisasi.

Roucek menyebutkan bahwa cara-cara pemaksaan, reformitas, seperti desas-desus, mengolok-olok, mengucilkan dan menyakiti sangat banyak jumlah dan ragamnya dalam cara-cara dan teknik-teknik pengendalian sosial, seperti ideologi, bahasa, seni, rekreasi, organisasi rahasia, cara-cara tanpa kekerasan, kekerasan dan teror, pengendalian ekonomi, pererncanaan ekonomi dan sosial.

Warren pernah mengemukakan pengertian suatu komunitas yaitu penempatan populasi yang saling tergantung dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mengadakan penyamarataan aktifitas lewat pendirian yang memberikan pelayanan yang baik dari hari ke hari yang diperlukan untuk kelancaran kegiatannya sebagai suatu kesatuan sosial dan ekonomi.

Roucek dan Warren lebih banyak menekankan sosiologi di bidang sosial yang diantaranya teorinya antara lain :

1. Lembaga sosial adalah pola aktifitas yang dibentuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia.

2. Status adalah seseorang dalam suatu kelompok sosial.

3. Status sosial adalah posisi seseorang dalam masyarakat.

4. Cara-cara pengendalian sosial dengan pemaksaan, reformitas, perilaku sangat banyak jumlah dan ragamnya. Maka cara-cara dan teknik pengendalian sosial yang diuraikan banyak seperti ideologi, bahasa, seni, kreasi, dan organisasi.

5. Tentang organisasi sosial dan partisipasi masyarakat.

Menurut Roucek dan Warren, sosiolog Amerika, ada tiga faktor mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu, yaitu

1. Faktor biologis/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu. Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya.

2. Faktor psikologi/kejiwaan adalah suatu factor yang membentuk suatu kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dll. Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai, maka akan memuncak amarahnya.

3. Faktor sosiologi/lingkungan adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang tersebut akan mempunyai kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.

Biografi Robert K. Merton
Encyclopedia of World Biography on Robert K. Merton

Robert K. Merton (born 1910) was a sociologist, educator, and internationally regarded academic statesman for sociology in contemporary research and social policy. He was also a leading interpreter of responsible functional analysis, of major social factors in scientific development, and of underlying and unanticipated strains in modern society. He is considered the founder of the sociology of science.
Born in Philadelphia on July 5, 1910, Robert Merton was educated at Temple University and received his doctorate from Harvard University in 1936. After being attracted to sociology by George E. Simpson, he studied with or was profoundly influenced by such thinkers as George Sarton, Pitirim Sorokin, Talcott Parsons, and L. J. Henderson. An instructorship at Harvard was followed by a professorship at Tulane University. From 1941 until his retirement in 1978 he was one of the key figures in the development of the Department of Sociology at Columbia University and in received national and international recognition for his contributions to sociological analysis.
Received Awards and Honors
As a consequence, Merton held a number of important positions, among them associate director of the Bureau of Applied Social Research at Columbia University, trustee of the Center for Advanced Study in the Behavioral Sciences at Stanford University (1952-1975), and president of the American Sociological Association (1957). He received several prestigious awards: one for distinguished scholarship in the humanities from the American Council of Learned Societies (1962); the Commonwealth Award for Distinguished Service to Sociology (1970); a MacArthur Prize Fellowship (1983); and the first Who’s Who in America Achievement Award in the field of social science and social policy (1984). In 1985 Columbia University honored him with the Doctor of Letters degree.
Focused on Variety of Responses in Social Behavior
Though Merton studied a considerable range of social situations and social categories or groups, his basic and enduring contributions to sociological analysis consist of three complementary themes. First, human behavior can best be understood as embedded in social structures (groups, organizations, social classes, communities, nations) which simultaneously present opportunities and constraints to their members. Second, in varying degrees individuals confront differing clues and ambiguities in social demands, and thus humans develop mixed or ambivalent values and motives in their responses to others. Consequently, sociologists cannot focus on either formal, official patterns (rules, laws, etc.) or the special features of individuals to understand the course and variations in important social structures. Third, because of this pervasive complexity in social experience, normal or “routine” social behavior typically generates multiple consequences, some predictable and desirable, but others largely unanticipated and even contrary to the intentions of many persons. On the whole, then, Merton advocated careful and yet imaginative study of social phenomena and cautioned against superficial, “common sense” investigations and slavish dependence on any technique of probing human social participation.
More specifically, Merton combined study of actual (or historically significant) social organizations and groups with a focus on some limited but crucial and recurring problem in social structures–the so-called “middle range” problems and related explanations. One such focus was social specialization and related issues of differences in responsibilities, types and complexity of social contacts, and cultural interests. Merton distinguished “local” versus “cosmopolitan” types of leaders and showed how such differences underscored meaningful differences in influence. Similarly, Merton connected different levels of status with availability of different forms of personal influence (“reference groups”) and linked the process of changing one’s status–social mobility–with the selection of new reference groups (“anticipatory socialization”) in the cases of soldiers, voters, and some nonconformists.
Studied Socialization Issues
Another cardinal issue was socialization, the process of acquiring and sustaining legitimate roles in given social organizations. In this respect Merton studied medical students, intellectuals, scientists, bureaucrats, and various professionals. He and his associates gave much attention to the conflict between ideal goals and personal status concerns, and even to the “normal” inconsistency between accepted norms in academic training and the realities of “on-the-job” training of scientists and professionals.
Concerned with Social Regulation and Deviation
Much of Merton’s continuing sociological concern, however, centered on the twin sociological problems of social regulation and social deviation–each type of phenomenon necessarily conditioning the other. Merton inferentially demonstrated the basic fragility of such normal forms of social regulation as formal leadership, dominant cultural values, and professional standards. Furthermore, he pointed to such basic patterns as the variable consequences in behavior of imposing demanding objectives without providing suitable means; the fact that people often estimate their social opportunities and limitations not in objective terms, but in comparison with some desired level or with a self-selected “new” reference group (“relative deprivation”); and the special and virtually unshakable advantage of persons in favored social positions (the “Matthew Effect”), which dissipates attempts at equalization and implicitly undermines the legitimacy of those in positions of responsibility.
Demonstrated Intellectual Flexibility in Spoof
After the mid-1960s Merton immersed himself in the sociology of science, the study of major cultural and organizational factors in the work of scientists (principally in the physical and biological sciences). This involved careful analysis of the careers of Nobel laureates, the processes of competition among scientists, the connection between publication and scientific investigation, and the problematic nature of discovery and acceptance in the sacred realm of science. However, Merton also demonstrated his intellectual versatility in a delightful spoof of scholarship in his On the Shoulders of Giants. In retrospect, his entire intellectual career was notable for the flexibility with which he combined theoretical formulations, useful typologies and classifications, empirical investigations, and a concern for the practical implications of sociological work in modern society.
His major works include Social Theory and Social Structure (1949), and The Sociology of Science (1973). His collection of essays,On Social Structure and Science, was reprinted in 1996. In the introduction, the editor of the collection, Piotr Sztompka, wrote that Merton’s work had “opened up fruitful areas of inquiry along lines that he and generations of others would pursue for decades.”

Sumber artikel :http://www.bookrags.com/biography/

BIOGRAFI HERBERT SPENCER
HERBERT SPENCER

A. BIOGRAFI
Spencer lahir di Derby, Inggris, 27 April 1820. ia tak belajar seni Humaniora, tetapi di bidang teknik dan bidang utilitarian. Tahun 1837 ia mulai bekerja sebagai seorang insinyur sipil jalan kereta api, jabatan yang di pegangnya hingga tahun 1846.selama periode ini Spencer melanjutskan studi atas biaya sendiri dan mulai menerbitkan karya ilmiah dan politik.tahun 1848 spenser di tunjuk sebagai redaktur the economis dan gagasan intelektualnya mulai mantap. Tahun1850 ia menyelesaikan karya besar pertamanya, Social Statis. Selama menulis karya ini Spencer untuk pertama kalinya mengalami insomnia (tidak bisa tidur)dan dalam beberapa tahun berikutnya maslahmental dan fisiknya ini terus mengikat. Ia menderita gangguan syaraf sepanjang sisa hidupnya.
Tahun 1853 Spencer menerima harta warisan yang memungkinkan berhenti bekerja dan menjalani hidupnya sebagai seorang sarjana bebas. Ia tak pernah memperoleh gelar kesarjanaan Universitas atau memangku jabatan akademis. Karena ia mekin menutup diri, dan penyakit fisik dan mental semakin parah, produktifitasnya sebagai seorang sarjana makin menurun.akhirnya Spencer mencapai puncak kemasyuran tak hanya di inggris tetapi juga reputasi internesional. Richard Hofstadter mengatakan “selama tiga dekade sesudah perang saudara, orang tak akan mungkin aktif berkarya di bidang intelektual apapun tanpa menguasai(pemikiran)Spencer”(1959;33)salah seorang pendukungnya adlah industrialis terkenal Andrew Carnegie. Selaku pengikut, Carnegie pernah menyerati spencer menjelang akhir hanyatnya tahun 1903.
Guru yang tercinta…anda menemuiku tiap hari dalam pikiranku dan terus – menerus muncul pertanyaan “mengapa” – mengapa dia harus berbohong?mengapa dia harus pergi?….dunia tidak menyadari keistimewaan pikirannya…namun suatu hari nanti dunia akan menyadari ajarannya dan akan menghormati Spencer sebagai manusia besar (carnegie, di kutip dalaam pee, 1971;2)
Namun nasib Spencer ternyata tidak seperti itu.salah satu watak Spencer yang paling menarik yang menjadi penyebab kerusakan intelektualnya adalah keengganannya membaca buku orang lain. Dalam hal ini ia sama dengan tokoh sosioligi awal Auguste Comte yang mengalami gangguan otak. Mengenal keengganannya membaca buku orang lain, Spencer berkata: “aku telah menjadi pemikir sepanjang hidup, bukan menjadi pembaca, aku sependapat apa yang di katakan Hobbea jika membaca sebanyak yang di baca orang lain, aku akan mengetahui sedikityang mereka ketahui itu”(Wilstshire’1978;67).temannya pernah meminta pendapatnya tentang buku, dan “jawabannya adalah bila membaca buku ia melihat asumsi fundamental buku itu keliru dan karena itulah ia tak mau membaca buku”( Wilstshire’1978;67).Seorang pengarang menulis tentang “cara Spencer dalam menyerap peengetahuan melalui kekuatan kulitnya …….ia rupanya tak pernah membaca buku”( Wilstshire’1978;67).
Bila ia tak pernah membaca karya sarjana lain, lalu dari mana gagasan dan pemahaman Spencer berasal. Menurut Spencer, ide – idennya muncul tanpa sengaja dan secara intuitif dari pikirannya. Ia mengatakan bahwa gagasannya muncul “sedikit demi sedikit, secara rendah hati tanpa disengaja ataupun upaya keras”( Wilstshire’1978;66). Intuisi seperti itu di anggap Spencer jauh lebih efektif ketimbang uppaya berfikir dan belajar tekun:”pemecahan yang di capai melalui cara yang dilukiskan itu memungkinkan lebih benar ketimbang yang di capai dengan pemikiran”( Wilstshire’1978;66)
Spencer menderita karena enggan membaca secara serius karya orang lain. Sebenarnya, jika ia membaca karya orang lain, itu di lakukan hanya sekedar untuk menemukan pembenaran pendapatnya sendiri. Ia mengabaikan gagasan orang lain yang tak mengakui gagasannya. Demikianlah, Charles Darwin, pakar sezamannya. Berkata tentang Spencer “jika ia mau melatih dirinya untuk mengamati lebih banyak, dengan resiko kehilangan sebagian kekuatan berpikirnya sekalipun, tentulah ia telah menjadi seseorang yang hebat”(Wiltshire, 1978;70).pengabaiaan Spencer terhadap aturan ilmu pengetahuan menyebapkan ia membuat serentetan gagasan kasar dan pernyataan yang belum di buktikan kebenarannya mengenai evolusi kehidupan manusia. Karena itulah sosiologi abad 20 menplak gagasan Spencer dan menggantinya dengan riset ilmiah dan riset empiris yang tekun. Spencer meninggal 8 Desember 1903.

Sumber artikel : http://nataebiografiteacher.blogspot.com/

BIOGRAFI MAX WEBER
MAX WEBER

A. Biografi
Max Weber lahir di Erfurt, jerman, 21 April 1864, berasal dari keluarga kelas menengah. Perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar terhadap orientasi intelektual dan perkembangan psikologi Weber.ayahnya seorang birokrat yang kedudukan politiknya relatif penting, dan menjadi bagian dari kekuasaan politik yang mapan dan sebagai akibatnya menjauhkan diri dari setia aktivitas dan idealisme yang memerlukan pengorbanan diri atau yang dapat menimbuklkan ancaman terhadap kedudukan dalam sistem. Lagipula sang ayah adalah seorang yang menyukai kesenangan duniawi dan dalam hal ini, juga dalam berbegai hal lainnya, ia bertolak belakang dengan istrinya. Ibu Max Weber adalah seorang Calvinis yang taat, wanita yang berupaya menjalani kehidupan prihatin (ascetic) tanpa kesenangan seperti yang sangat menjadi dambaan suaminya. Perhatiannya kebanyakan tertuju pada aspek kehidupan akhirat.ia terganggu aloh ketidak sempurnaan yang dianggap pertanda bahwa ia tidak di takdirkan akan mendapat keselamatan diakhirat. Perbedaan mendalam antara kedua pasangan ini menyebapkan ketegangan perkawinan mereka dan ketegangan ini berdampak bersar pada Weber.
Karena tak mungkin menyamakan diri terhadap pembawaan orang tunanya yang bertolak belakang itu. Weber kecil lalu berhadapan dengan suatu pilihan jelas (Mariane Weber,1975;62) mula- mula ia memilih orientasi hidup ayahnya, tetapi kemudian tertarik makin mendekati orientasi hidup ibunya. Apapun pilihan, ketegangan yang dihasilkan kebutuhan memilih antara pola yang berlawanan ini berpengaruh negatif terhadap kejiwaan Weber. Ketika berumur 18 tahun Weber minggat dari runah, belajar di Universitas Heildelberg,Weber telah menunjukkan kematangan intelektual, tetapi ketika masuk Universitas ia masih tergolong terbelakang dan pemelu dalam bergaul. Sifat ini cepat berubah ketika ia condong pada gaya hidup ayahnya dan bergabung dengan kelompok mahasiswa saingan kelompok mahasiswa ayaahnya dulu.secara sosial ia mulai berkembang, sebagai karena terbiasa minum bir dengan teman – temannya. Lagipula ia dengan bangga memamerkan parutan akibat perkelahiaan yang menjadi cap kelompok persaudaraan mahasiswa seperti itu,dalam hal ini Weber tak hanya menunjukkan jati dirinya sama dengan pandangan ayahnya tetai juga pada waktu itu memilih karir bidang hukum seperti ayahnya.
Setelah kuliah tiga semester weber meninggalkan Heildelberg untuk dinas militer dan tahun 1884 ia kembali ke berlin, kerumah orangtuanya, dan belajar di Universitas Berlin. Ia tetap disana hampir 8 tahun untuk menyelesaikan studi hingga mendapat gelar Ph,d,menjadi pengacara dan mulai mengejar di Universitas Berlin, dalamproses itu minat belajarnya bergeser ekonomi, sejarah, dan sosiologi yang menjadi sasaran perhatiaanya selama sisia hidupnya. Selama 8 tahun di Berlin, kehidupannya masih tergantung pada ayahnya, suatu keadaan yang segera tak disukainya. Pada waktu bersamaan ia beralih lebih mendekat nilai – nilai ibunya dan anti pati terhadap ayahnya meningkat (asceptic) dan memusatkan perhatian sepenuhnya untuk studi. Misalnya, selama satu semester sebagai mahasiswa, kebiasaan kerjanya di lukiskan sebagai berikut,”dia terus mempraktikkan disiplin kerja yang kaku, mengatur kehidupannya berdasakkan pembagiaan jam – jam kegiatan ruti sehari – hari kepada bagian – bagian secara tepat untuk berbagai hal. Berhemat menurut caranya, makan malam sendiri di kamarnya dengan 1 pot dagung sapi dan 4 buah telur goreng”(Mitzman, 1969/1971;48;mariane, Weber,1975;105 ), jadi, dengan mengikuti ibunya, weber mengalami hidup prihatin, raajin, bersemangat kerja tinggi – dalam istilsh dalam istilah modern disebut workaholic(gila kerja). Semangat kerja tinggi ini mengantarkan Weber menjadi Profesor ekonomi di universitas Heildelberg pada 1896. pada 1897, ketika karir akademis Weber berkembang, ayahnya meninggal setelah terjadi pertengkarang sengit antar mereka. Tak lama kemudian Weber menunjukkan gejala yang berpuncak pada gangguan saraf. Sering tidak bisa tidur atau bekerja, enam atau tujuh btahun berikutnya di lalaui dalam keadaan mendekati kehancuran total. Setelah masa kosong yang lama, sebagai kekuatan yang mulai pulih di tahun1904, ketika ia memberikan kuliah pertamanya (di Amerika) yang kemudian berlangsung selama 6,5 tahun, Weber mulai mampu aktif kembali dalam kehidupan akadenis. Tahun 1904 dan 1905 ia menerbitkan salah satu terbaiknya, the protestat Ethic and The Spirit of Capitalsm. Dalam karya ini weber banyak menghabiskan waktu untuk belajar agama meski secara pribadi ia tak religius.
Meski terus di anggap maslah oleh psikologis, setelah 1904 Weber mampu memproduksi beberapa karya yang sangat penting, ia menerbitkan hasil studi tentang agama dunia dalam perspekti sejarah dunia (misalnya, cina india dan agama yahudi kuno). Menjelang kematiannya (14 juni 1920)ia menulis karya yang sangat penting, economy and Society. Meski buku ini di terbitkan, dan telah di terjemahkan dalam beberapa bahasa, namun buku ini belum selesai. Selain menulis berjilid – jilid buku dalam periode ini, Weber pun melakukan kegiatan lain, ia membantu mendirikan German Sociological Sosiety di tahun 1910. rumahnya di jadikan pusat pertemuan pakar berbagai cabang ilmu termasuk sosiologi seperti George Simmel, Robert Michelis, dan saudara kandungnya, Alfred, mauopun filsuf dan kritikus sastra Georg Lukacs (Scaff, 1989;186-222).Weber pu aktif dalam aktifitas politik dan menulis tentang masalah politik di masa itu. Ada ketegangan dalam kehidupan Weber dan, yang lebih penting, dalam karyanya, dalam pemikiran birokratis seperti yang tercermin oleh ayahnya dan rasa keagamaan ibunya. Ketegangan yang tak terselesaikan ini meresapi karya Weber mauun kehidupan pribadinya.
Sumber artikel :http://nataebiografiteacher.blogspot.com/
BIOGRAFI PITIRIM A SOROKIN
Pitirim Alexandrovich Sorokin
(Russian: Питирим Александрович Сорокин) (January 21, 1889 – February 11, 1968) was a Russian-American sociologist. Academic and political activist in Russia, he immigrated from Russia to the United States in 1923. He founded the Department of Sociology at Harvard University. Like C. W. Mills, he was a vocal opponent of Talcott Parsons’ theories. He is best known for his contributions to the social cycle theory.

Biography
Supporting himself as artisan and clerk, he was able to study at the University of St. Petersburg and to teach sociology. Sorokin was imprisoned three times by the czarist regime of Russian Empire; during the Russian Revolution he was a member of Alexander Kerensky’s Russian Provisional Government. After the October Revolution he engaged in anti-Communist activities, for which he was condemned to death by the victorious Communist government; the sentence was commuted to exile. He emigrated in 1923 to the United States and was naturalized in 1930. Sorokin was professor of sociology at the University of Minnesota (1924–30) and at Harvard University (1930–55), where he founded the Department of Sociology
Works
His writings cover the breadth of sociology; his controversial theories of social process and of the historical typology of cultures are expounded in Social and Cultural Dynamics (4 vol., 1937–41; rev. and abridged ed. 1957) and many other works. He was also interested in social stratification, the history of sociological theory, and altruistic behavior.
Sorokin is author of books such as The crisis of our age and Power and morality, but his magnum opus is Social and Cultural Dynamics (1937-1941). His unorthodox theories contributed to the social cycle theory and inspired (or alienated) many sociologists.
In his Social and Cultural Dynamics he classified societies according to their ‘cultural mentality’, which can be ideational (reality is spiritual), sensate (reality is material), or idealistic (a synthesis of the two). He suggested that major civilizations evolve through these three in turn: ideational, idealistic, sensate. Each of these phases of cultural development not only seeks to describe the nature of reality, but also stipulates the nature of human needs and goals to be satisfied, the extent to which they should be satisfied, and the methods of satisfaction. Sorokin has interpreted the contemporary Western civilisation as a sensate civilisation dedicated to technological progress and prophesied its fall into decadence and the emergence of a new ideational or idealistic era.
Sorokin’s papers are currently held by the University of Saskatchewan in Saskatoon, Canada where they are available for researchers and the public.
Artikel ini diambil dari Wikipedia.

BIOGRAFI AUGUSTE COMTE
Auguste Comte

Riwayat Hidup
Auguste Comte dilahirkan di Montpellier, Prancis tahun 1798, keluarganya beragama khatolik dan berdarah bangsawan. Dia mendapatkan pendidikan di Ecole Polytechnique di Prancis, namun tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena banyak ketidakpuasan didalam dirinya, dan sekaligus ia adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak.
Comte akhirnya memulia karir profesinalnya dengan memberi les privat bidang matematika. Namun selain matematika ia juga tertarik memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat terutama minat ini tumbuh dengan suburnya setelah ia berteman dengan Saint Simon yang mempekerjakan Comte sebagai sekretarisnya.
Kehidupan ekonominya pas-pasan, hampir dapat dipastikan hidupa dalam kemiskinan karena ia tidak pernah dibayar sebagaimana mestinya dalam memberikan les privat, dimana pada waktu itu biaya pendidikan di Prancis sangat mahal.
Pada tahun 1842 ia menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Course of Positive Philosophy dalam 6 jilid, dan juga karya besar yang cukup terkenal adalah System of Positive Politics yang merupakan persembahan Comte bagi pujaan hatinya Clothilde de Vaux, yang begitu banyak mempengaruhi pemikiran Comte di karya besar keduanya itu. Dan dari karyanya yang satu ini ia mengusulkan adanya agama humanitas, yang sangat menekankan pentingnya sisi kemanusiaan dalam mencapai suatu masyarakat positifis.
Comte hidup pada masa akhir revolusi Prancis termasuk didalamnya serangkaian pergolakan yang tersu berkesinambungan sehingga Comte sangat menekankan arti pentingnya Keteraturan Sosial.
Pada tahun 1857 ia mengakhiri hidupnya dalam kesengsaraan dan kemiskinan namun demikian namanya tetap kita kenang hingga sekarang karena kegemilangan pikiran serta gagasannya.
Konteks Sosial dan Lingkungan Intelektual
Untuk memahami pemikiran Auguste Comte, kita harus mengkaitkan dia dengan faktor lingkungan kebudayaan dan lingkungan intelektual Perancis. Comte hidup pada masa revolusi Perancis yang telah menimbulkan perubahan yang sangat besar pada semua aspek kehidupan masyarakat Perancis. Revolusi ini telah melahirkan dua sikap yang saling berlawanan yaitu sikap optimis akan masa depan yang lebih baik dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebaliknya sikap konservatif atau skeptis terhadap perubahan yang menimbulkan anarki dan sikap individualis.
Lingkungan intelektual Perancis diwarnai oleh dua kelompok intelektual yaitu para peminat filsafat sejarah yang memberi bentuk pada gagasan tentang kemajuan dan para penulis yang lebih berminat kepada masalah-masalah penataan masyarakat. Para peminat filsafat sejarah menaruh perhatian besar pada pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah sejarah memiliki tujuan, apakah dalam proses historis diungkapkan suatu rencana yang dapat diketahui berkat wahyu atau akal pikiran manusia, apakah sejarah memiliki makna atau hanyalah merupakan serangkaian kejadian yang kebetulan. Beberapa tokoh dapat disebut dari Fontenelle, Abbe de St Pierre, Bossuet, Voltaire, Turgot, dan Condorcet. Para peminat masalah-masalah penataan masyarakat menaruh perhatian pada masalah integrasi dan ketidaksamaan. Tokoh-tokohnya antara lain Montesquieu, Rousseau, De Bonald.
Dua tokoh filusuf sejarah yang mempengaruhi Comte adalah turgot dan Condorcet. Turgot merumuskan dua hukum yang berkaitan dengan kemajuan. Yang pertama berisi dalil bahwa setiap langkah berarti percepatan. Yang kedua adalah hukum tiga tahap perkembangan intelektual, pertama, orang pertama menemukan sebab-sebab adanya gejala-gejala dijelaskan dalam kegiatan mahluk-mahluk rohaniah, kedua, gejala-gejala dijelaskan dengan bantuan abstraksi dan pada tahap ketiga orang menggunakan matematika dan eksperimen. Menurut Condorcet, Studi sejarah mempunyai dua tujua, pertama, adanya keyakinan bahwa sejarah dapat diramalkan asal saja hukum-hukumnya dapat diketahui (yang diperlukan adalah Newton-nya Sejarah). Tujuan kedau adalah untuk menggantikan harapan masa depan yang ditentukan oleh wahyu dengan harapan masa depan yang bersifat sekuler. Menurut Condorcet ada tiga tahap perkembangan manusia yaitu membongkar perbedaan antar negara, perkembangan persamaan negara, dan ketiga kemajuan manusia sesungguhnya. Dan Condorcet juga mengemukakan bahwa belajar sejarah itu dapat melalui, pengalaman masa lalu, pengamatan pada kemajuan ilmu-ilmu pengetahuan peradaban manusia, da menganalisa kemajuan pemahaman manusia terhadap alamnya.
Dan penulis yang meminati masalah penataan masyarakat, Comte dipengaruhi oleh de Bonald, dimana ia mempunyai pandangan skeptis dalam memandang dampak yang ditimbulkan revolusi Perancis. Baginya revolusi nii hanya menghasilkan keadaan masyarakat yang anarkis dan individualis. De Bonald memakai pendekatan organis dalam melihat kesatuan masyarakat yang dipimpin oleh sekelompok orang yang diterangi semangat Gereja. Individu harus tunduk pada masyarakat.
Comte dan Positivisme
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kamu positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri.
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet).
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan.
Hukum Tiga Tahap Auguste Comte
Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam Positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivus percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial da[at digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.
Comte juga melihat bahwa masyarakat sebagai suatu keseluruhan organisk yang kenyataannya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Dan untuk mengerti kenyataan ini harus dilakukan suatu metode penelitian empiris, yang dapat meyakinkan kita bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik.
Untuk itu Comte mengajukan 3 metode penelitian empiris yang biasa juga digunakan oleh bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pengamatan, dimana dalam metode ini [eneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu Eksperimen, metode ini bisa dilakukans ecara terlibat atau pun tidak dan metode ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu Perbandingan, tentunya metode ini memperbandingkan satu keadaan dengan keadaan yang lainnya.
Dengan menggunakan metode-metode diatas Comte berusaha merumuskan perkembangan masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi 3 kelompok yaitu, pertama, Tahap Teologis, merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia, dan dalam periode ini dibagi lagi ke dalam 3 subperiode, yaitu Fetisisme, yaitu bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri. Politheisme, muncul adanya anggapan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupannya atau gejala alam. Monotheisme, yaitu kepercayaan dewa mulai digantikan dengan yang tunggal, dan puncaknya ditunjukkan adanya Khatolisisme.
Kedua, Tahap Metafisik merupakan tahap transisi antara tahap teologis ke tahap positif. Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi. Ketiga, Tahap Positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir, tetapi sekali lagi pengetahuan itu sifatnya sementara dan tidak mutlak, disini menunjukkan bahwa semangat positivisme yang selalu terbuka secara terus menerus terhadap data baru yang terus mengalami pembaharuan dan menunjukkan dinamika yang tinggi. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum yang bersifat uniformitas.
Comte mengatakan bahwa disetiap tahapan tentunya akan selalu terjadi suatu konsensus yang mengarah pada keteraturan sosial, dimana dalam konsensus itu terjadi suatu kesepakatan pandangan dan kepercayaan bersama, dengan kata lain sutau masyarakat dikatakan telah melampaui suatu tahap perkembangan diatas apabila seluruh anggotanya telah melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan yang ada, ada suatu kekuatan yang dominan yang menguasai masyarakat yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan konsensus demi tercapainya suatu keteraturan sosial.
Pada tahap teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan, dalam tahap metafisik kekuatan negara-bangsa (yang memunculkan rasa nasionalisme/ kebangsaan) menjadi suatu organisasi yang dominan. Dalam tahap positif muncul keteraturan sosial ditandai dengan munculnya masyarakat industri dimana yang dipentingkan disini adalah sisi kemanusiaan. (Pada kesempatan lain Comte mengusulkan adanya Agama Humanitas untuk menjamin terwujudnya suatu keteraturan sosial dalam masyarakat positif ini).
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sifat dasar dari suatu organisasi sosial suatu masyarakat sangat tergantung pada pola-pola berfikir yang dominan serta gaya intelektual masyarakat itu. Dalam perspektif Comte, struktur sosial sangat mencerminkan epistemologi yang dominan, dan Comte percaya bahwa begitu intelektual dan pengetahuan kita tumbuh maka masyarakat secara otomatis akan ikut bertumbuh pula.
Perkembangan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan yang lainnya selalu mengikuti hukum alam yang empiris sifatnya dan Comte merumuskan ke dalam 3 tahapan yaitu tahap Teologis, Metafisik dan Positif. Dimana dalam tahap teologis dimana pengetahuan absolut mengandaikan bahwa semua gejala dihasilkan dari tindakan langsung dari hal-hal supranatural. Tahap metafisik mulai ada perubahan bukan kekuatan suoranatural yang menentukan tetapi kekuatan abstrak, hal yang nyata melekat pada semua benda. Dan fase positif, sudah meninggalkan apa-apa yang dipikirkan dalam dua tahap sebelumnya dan lebih memusatkan perhatiannya pada hukum-hukum alam.
Jika ditilik dari penjelasan diatas maka bentuk dari perkembnagan sejarah Auguste Comte sulit untuk dipastikan apak mengikuti alur linier atau mengikuti alur spiral tetapi yang jelas Comte tidak terlalu murni menggunakan kedau alur tersebut, yang pasti ia mengarah pada progresifitas dimana masyarakat positif merupakan cita-cita akhirnya yang sebelum nya harus melalui 2 tahapan dibawahnya, yaitu tahap Teologis dan Metafisik
Artikel ini diambil dari : http://staff.blog.ui.edu/

David Émile Durkheim
David Émile Durkheim (15 April 1858 - 15 November 1917) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.

Biografi
Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Prancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation – syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada 1882.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologis”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas Prancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar – kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan bentuk kehidupan Prancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negarainya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Prancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Prancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.
[sunting] Teori dan gagasan
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap “fakta-fakta sosial”, istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern[1]. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas ‘organik’. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang ‘organik’, para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam “Bunuh Diri”, yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik, dan menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah mempengaruhi para penganjur teori kontrol, dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik.
Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat ‘primitif’ (artinya, non Barat) dalam buku-bukunya seperti “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama” (1912) dan esainya “Klasifikasi Primitif” yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat ‘mekanis’ (meminjam ungkapan Durkheim)
Tentang pendidikan
Durkheim juga sangat tertarik akan pendidikan. Hal ini sebagian karena ia secara profesional dipekerjakan untuk melatih guru, dan ia menggunakan kemampuannya untuk menciptakan kurikulum untuk mengembangkan tujuan-tujuannya untuk membuat sosiologi diajarkan seluas mungkin. Lebih luas lagi, Durkheim juga tertarik pada bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk memberikan kepada warga Prancis semacam latar belakang sekular bersama yang dibutuhkan untuk mencegah anomi (keadaan tanpa hukum) dalam masyarakat modern. Dengan tujuan inilah ia mengusulkan pembentukan kelompok-kelompok profesional yang berfungsi sebagai sumber solidaritas bagi orang-orang dewasa.
Durkheim berpendapat bahwa pendidikan mempunyai banyak fungsi:
1) Memperkuat solidaritas sosial
• Sejarah: belajar tentang orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi banyak orang membuat seorang individu merasa tidak berarti.
• Menyatakan kesetiaan: membuat individu merasa bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecenderungan untuk melanggar peraturan.
2) Mempertahankan peranan sosial
• Sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniatur. Sekolah mempunyai hierarkhi, aturan, tuntutan yang sama dengan “dunia luar”. Sekolah mendidik orang muda untuk memenuhi berbagai peranan.
3) Mempertahankan pembagian kerja.
• Membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Mengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereka.

Naskah ini diambila dari WIKIPEDIA INDONESIA

2 Komentar (+add yours?)

  1. boston dog bite
    Mar 07, 2013 @ 18:14:29

    Tremendous things here. I am very glad to see your post. Thank you
    so much and I’m having a look forward to touch you. Will you kindly drop me a e-mail?

    Balas

  2. marriage counseling tacoma
    Mar 08, 2013 @ 19:22:56

    Good article. I will be facing many of these issues as well.
    .

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: